Kemis Legen Sebuah Upaya Pelestarian Budaya Jawa yang Dilakukan di SMA Negeri 1 Weru, Sukoharjo
oleh :
Triana Heny Puspitasari, S.S.

Gambar: doc. pribadi
SMA Negeri 1 Weru berada di Kabupaten Sukoharjo berbatasan dengan Gunung Kidul dan Klaten. Dengan kondisi yang seperti ini membuat pengalaman dan tradisi yang beragam. Misal dialek atau tata urutan upacara adat, dikarenakan letak geografisnya ada yang dari Wonogiri, Gunungkidul, Sukoharjo, dan Klaten. Keberagaman ini tidak merusak tradisi, justru menambah kekayaan intelektual. Oleh karena itu, siswa-siswi OSIS membuat program yang sangat perlu dukungan, yaitu berbudaya Jawa terutamanya di hari Kamis pasaran Jawa Legi. Program OSIS adalah diwajibkan bagi peserta didik SMA Negeri 1 Weru memakai pakaian batik bebas rapi dan sopan, bawahan hitam dan bersepatu hitam, serta dalam berkomunikasi dengan guru dan siswa lain adalah memakai bahasa Jawa ragam krama.
Tujuan dari kegiatan ini adalah utamanya untuk nguri-uri budaya Jawa dengan pembiasaan menggunakan pakaian batik sebagai identitas Indonesia. Sedangkan bahasa Jawa yang digunakan dalam berkomunikasi, memiliki tujuan melestarikan budaya unggah-ungguh basa yang mulai terkikis kemajuan jaman dan masuknya budaya asing.
Menumbuhkan rasa bangga peserta didik menggunakan pakaian batik adalah sebuah tantangan, karena diluar sana banyak anak muda yang merasa malu menggunakan batik karena takut dianggap tua. Akan tetapi, di SMA Negeri 1 Weru semua peserta didik mengenakan pakaian batik dengan sukarela dan bersemangat. Tidak takut dikatakan tua, karena memang jaman sekarang banyak desain baju batik yang sudah disesuaikan dengan selera anak muda. Pembiasaan berpakaian batik menumbuhkan rasa bangga dan cinta akan hasil budaya sendiri. Dengan bukti bahwa setiap hari Kamis Legen kegiatan ini ditunggu siswa, pada kalender di kelas dilingkari pada hari Kemis Legen. Siswa sangat antusias pada hari itu, diwaktu istirahat peserta didik berfoto dengan bangga memakai batik dan diposting pada sosial media mereka. Membanggakan melihat fenomena ini, apa yang mereka lakukan adalah bukti bahwa anak-anak bangga akan batik.
Berbahasa Jawa dilingkungan sekolah dengan menerapkan sesuai unggah-ungguh basa bisa digunakan untuk pembiasaan peserta didik dalam berkomunikasi sesuai aturan berbahasa. Berbiacara dengan bapak ibu guru menggunakan ragam bahasa Jawa krama, sedangkan kepada kakak kelas, teman sebaya atau adik kelas bisa menggunakan krama, ngoko alus atau ngoko lugu sesuai aturan berbahasa sesuai unggah-ungguh basa Jawa
Dengan adanya program Kemis Legen peserta didik menjadi terlatih untuk bisa memahami aturan apa yang harus digunakan ketika berkomunikasi dengan lawan bicara. Peserta didik mau bertanya dan mencari pemahaman sendiri agar tidak malu atau salah dalam berkomunikasi dengan lawan bicara. Kegiatan ini membutuhkan dukungan dari beberapa pihak. Kewajiban memakai batik dan berbicara menggunakan ragam bahasa Jawa perlu ada support dari guru dan teman. Jika ada kesalahan ucap saat berkomunikasi tidak boleh diolok-olok, jika salah diberitahu yang benar bagaimana. Dengan demikian, peserta didik mendapat manfaat dalam program ini. Harapannya peserta didik semakin cakap berkomunikas memakai ragam bahasa Jawa dan mencintai hasil budaya Indonesia yaitu batik. Jika tidak dibiasakan sejak dini kapan lagi, peserta didik semakin terlena akan masuknya budaya luar, misalnya drama Korea. Sedikit banyak pengaruh melihat drama Korea peserta didik akan meniru apa yang mereka lihat, berpakaian, berdandan, cara makan, menyukai makanan Korea, empelajari udayanya bahkan mempelajari bahasanya. Bukan pengaruh yang terlalu buruk, justru bagus bisa menambah pengetahuan. Tapi sayangnya, mereka menyukai budaya Korea tapi tidak menyukai budaya Indonesia khususnya Jawa. Padahal identitas diri sebagai orang Jawa salah satunya adalah bisa berbahasa Jawa. Bangun jiwa raga dan mental peserta didik jaman sekarang yang sudah tergerus modernisasi agar tidak terjerumus pada budaya asing, tapi ajarkan budaya Indonesia khususnya Jawa lebih adiluhung dan tiada duanya. Munculkan motivasi anak agar Jawa bisa seperti Korea, diikuti dan menjadi trend di dunia.
Semoga dengan program Kemis legen ini memunculkan dampak baik bagi peserta didik SMA Negeri 1 Weru dan bisa menjadi contoh untuk sekolah lain. Harapannya adalah tak lain dan tak bukan, mecetak generasi yang memiliki jiwa cinta tanah air dan cinta budaya Indonesia dalam hal ini budaya dan bahasa Jawa.
- Log in to post comments